Senin, 10 Agustus 2009

5 Resep keberhasilan Honda

  1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
  2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
  3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
  4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
  5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama. Selengkapnya...

SOICHIRO HONDA : "Lihat Kegagalan Saya"

  Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan.
  Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah.
  Namun ia trus bermimpi dan bermimpi...

  Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya.
  Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil
  maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas,
  sehingga layak dijuluki "raja jalanan".

  Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda -
  Soichiro Honda - diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar
  insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan
  Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas,
  duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

  "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia
  saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini,
  yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo,
  Tokyo, akibat mengindap lever.

  Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang membuka
  bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang
  Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi
 cathut
  (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat
  penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

  Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri
  berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya
  ingin menyaksikan pesawat terbang.

  Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun,
  Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki.
  Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif.
  Ia sadar berasal dari
  keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga
  membuatnya rendah diri.

  Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company.
  Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti
  dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap
  oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja
  disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia
  21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu.
  Tawaran ini tidak ditampiknya.

  Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima
  reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki

  mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya
  larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif.
  Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik
  meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu
  dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras,
  dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani
  patennya yang pertama.

  Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya,
  membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang
  dipilih?
  Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh
  bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh
  Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring
  buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi
  teman-temannya terhadap kegagalan itu.
  Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

  Kuliah
  Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan
  kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya.
  Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari
  jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang
  mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke
  bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua
  tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang
  mengikuti kuliah.

  "Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan,
  melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum
  makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang gandrung balap mobil.
  Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah.
  Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

  Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota
  memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan
  pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang,
  tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal
  dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah
 datang.
  Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

  Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan
 karyawannya.
  Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh
  kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.
  Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga
  diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu,
  Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

  Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini
  kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat
  menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan
  terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda.
  Siapa sangka, "sepeda motor" - cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu
  diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan,
  sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali
  mendirikan pabrik motor.
  Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda
  berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia.

  Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri
  otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya.
  "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka
  tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan
  petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi,
  mimpikanlah mimpi baru.

  Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang
  dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun
  berasal dari keluarga miskin. Selengkapnya...

SPASI, Tetap Semangat untuk Terus Membangun Diri



Sepak terjangnya dalam bermain musik masih tergolong baru. Tapi semangat untuk merubah diri menjadi lebih baik menjadi semangat tersendiri bagi mereka. Bagaimana proses terbentuknya Spasi dari SMA POMOSDA? Berikut sedikit ulasannya.

 

Tanggal 5 Agustus lalu, hari kedua school band contest, IKCC digebrak lagi dengan permainan band pelajar. Gitaris yang berbadan tambun dengan piawai memetik senar-senar gitar. Alunan melodi lagu Beraksi punya Kotak pun terdengar membangunkan semangat seisi IKCC Kediri. Dia adalah Bayu. Demikian biasanya teman-temannya memanggil. Dia adalah leader dalam Spasi. 

”Spasi sebenarnya nama yang diambil sebagai kepanjangan dari kelas kami belajar di SMA POMOSDA. Sebelas IPA Satu yang disingkat Spasi,” jelas pemuda yang berasal dari Tulungagung tersebut. 

Lebih lanjut dia menceritakan, bahwa terbentuknya band tersebut tanpa sengaja. Tepatnya setahun yang lalu, ada acara Pecan Kreatifitas Santri (PKS). Nah, saat itulah di POMOSDA mengadakan lat musik. Yakni seperangkat alat band. Di malam terakhir untuk acara penutupan dan malam inaugurasi diadakan pentas seni. ”Nah, kami bersama teman-teman mengajukan untuk ikut serta menampilkan ketrampilan bermusik kami. Dan oleh pembimbing disetujui, ya kami tancap gas,” lanjutnya sambil tersenyum. 

Tampil pertama kali sukses memukau teman-teman santri di POMOSDA. Saat itu tepuk tangan membahana di Balairung POMOSDA. Apalagi malam itu pihak PD Pro (even organizer punya POMOSDA, red) mendatangkan Home Band. Band yang biasa naik stage di sekolah-sekolah kawasan Nganjuk. ”Rasanya surprise,” tambahnya.
Saat kami tanya mengapa mengambil nama Spasi, Bayu menjelaskan, bahwa nama itu terinspirasi dari asal kelas mereka belajar. Kebetulan grup tersebut terbentuk saat kelas sebelas. ”Jadi ya kasih aja nama yang simple, Spasi. Sebelas IPA Siji,” terang siswa yang juga hobby tenis meja itu. 

Spasi sendiri terdiri dari 6 personil. Mereka adalah Bayu pada gitar I, Dhimas pada gitar II, Handy pada Bass, Faiz pada drum, Rocky pada vocal dan Bella pada vokal. Mereka berenam berasal dari kelas yang sama. Meski demikian perjalanan terbentuknya grup tersebut tidaklah mudah. Ini dikarenakan skill bermain musik mereka yang masih tergolong pemula. ”Kami masih amatiran, jadi kami merasa sangat perlu berlatih lebih. Tidak seperti Ken A’ Rock SMADA Pare yang sudah tinggi jam terbangnya,” tambah Faiz dengan terbahak. 

Sedangkan dalam menghadapi School Band Contest dalam Komu School Contest 2009 ini, mereka didampingi oleh seorang pendamping yang juga hobby bermusik. Mereka berlatih secara marathon untuk bisa tampil prima dan maksimal. Meski banyak kendala, akhirnya pada tanggal 5 Agustus lalu, mereka bisa unjuk kebolehan di hadapan pengunjung School Contest 2009. Yang kebetulan dilaksanakan bareng Super Pesta Buku Murah 2009 yang digelar Buka Buku Production Jogja. 

Meski demikian Spasi merasa kurang puas dalam penampilannya. Tak pelak kritikan pedas terlontar dari dewan juri. Kurang kompak, masih bermain sendiri adalah salah satu kalimat kritik yang keluar dari Pak Wahab CB dan Pak Hanis dari Radar Kediri. ”Masih sangat jauh sekali, kami masih perlu banyak latihan untuk tampil kompak dan terus mengasah ketrampilan bermusik kami,” pungkas Bayu yang diamini oleh seluruh personil.
(rsm) Selengkapnya...

Sabtu, 08 Agustus 2009

Spasi Band

SPASI BAND....

Bella Tanjung
Vokalis











Faragi Gibran Elyasa Sandy
Vokalis










Bayu Kristal Sukma
Gitaris









Handy Abdul Halim
Bass











Faiz Ulim Mulkillah
Drumer Selengkapnya...

Jumat, 07 Agustus 2009

d’Gracious Tampil, IKCC Kembali Diguncang


IKCC Kediri – Sehabis sholat Jum’at (7/8), 6 grup dari sekolah merebutkan predikat terbaik dalam School Ensemble Contest. Diantaranya adalah d’Gracious. Grup ensemble dari SMA POMOSDA Tanjunganom Nganjuk. Tampil dengan pakaian hitam-hitam mampu memukau penonton yang penuh sesak menjejali IKCC Kediri. Yang semula berpencar, pengunjung sontak maju kedepan.

Tampil dengan lagu awal Let’sGet The Beat sebagai lagu wajib dari sponsor mereka mampu tampil prima. Dilanjutkan dengan hit’s punya Gigi, Nakal. “Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, mereka mempersiapkan diri untuk tampil maksimal,” ujar Barokah, pelatih dari d’Gracious. Apalagi dengan banyaknya personil yang terkena sakit. “Jadi ya dihari-hari terakhir mendekati kompetisi dikebut untuk menampilkan tampilan yang maksimal,” lanjutnya.

Terlihat kemarin mereka tampil dengan alat perkusi seadanya. Diantaranya ember bekas tempat cat, terompet, gitar dipadu dengan kentongan pula. Memang mereka berangkat dari grup drum band yang ada di POMOSDA, Spectrum. Sehingga suara terompet sangat tak ketinggalan.

Tak pelak dewan juri sempat memuji tampilan mereka. “Suporter sangat luar biasa rame, heboh. Dan kalian bermain cukup keras dan kompak,” komentar Pak Rudi, salah satu dari juri yang ada.

Sementara itu, Arpega Choir SMPN 3 Kediri cukup bagus menampilkan Gundul Gundul Pacul. Sebuah lagu jawa yang membumi di pulau Jawa. Dipadu dengan alunan biola, suara rancak alat-alat musik tradisional menggelora didalam gedung yang sangat megah itu. Selanjutnya, gedung yang berdiri di selatan Insumo Hotel itu diguncang dengan alunana-alunan yang rancak dari para peserta ensemble.

Perlu dikteahui, IKCC akan diguncang oleh ratusan bahkan ribuan pelajar se eks karesidenan Kediri sampai tanggal 9 Agustus nanti. Rencananya besok (8/8) akan dilangsungkan final ILP News Presenter. Selain itu jangan dilupakan, di IKCC juga ditawarkan ribuan judul buku yang diobral murah. (rsm)

Selengkapnya...

Greenland, Berangkat dari Suka dan Hobby



Selama kurang lebih 6 bulan belajar di Pomosda, mereka sempat menggantungkan bakat bermusik yang dimiliki. Sebagian dari mereka berasal dari satu desa di kota Angin Nganjuk. Tepatnya Bagor. Selama itu pula mereka berharap lembaga mengadakan alat musik. 

Akhirnya selang beberapa bulan setelah belajar di pondok, ternyata pondok mengadakan seperangkat alat musik. Berawal dari itu, terbentuklah Greenland. Sebuah nama yang agak kebarat-baratan. Tapi cukup menarik bagi mereka. Ditanya mengapa memilih nama itu, mereka enggan untuk menuturkan. “Rahasia kami, yang jelas kami suka,” tutur salah satu personilnya. 

Berharap menjadi yang terbaik, grup ini digawangi 5 personil yang kebetulan berasal dari beda daerah. Kelima personilnya adalah Amin (drummer), Asgar (gitar I), Absar (gitar II), Muslim (bass), dan Fauzi (vokal). 

Modal mereka mendirikannya pun cukup sederhana. Mereka hanya bermodalkan kemauan dan minat yang kuat pada diri para personil. Didukung hobby yang sama, bermusik yang telah ada pada masing-masing personil. Lebih lanjut ditanya mulai kapan suka bermain musik, mereka menjawab kompak, sejak SMP dan sejak di rumah. 

Sementara itu, bagaimana persiapan mereka dalam mengikuti acara School Band Contest III yang di adakan oleh Radar Kediri? “Kami menyiapkan dengan sekuat tenaga,” cerita Asgar, pemetik gitar Green land. Saking seringnya latihan, sebagian personil pun jatuh sakit. Sehingga kegiatan latihan harus tertunda untuk beberapa hari. Namun, meskipun sakit tak pernah mereka hiraukan ataupun mereka keluhkan. ”Kita benar-benar merasakan sakit hingga di infus, sempat patah semangat sih, tapi berkat semangat tinggi kita bisa bangkit,” lanjutnya. 

School Band Contest 2009 ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka. Akan tetapi, meskipun ini pertama kalinya mereka unjuk kebolehan di luar sekolah tapi kepercayaan diri mereka telah terbentuk. Ini terbukti saat Fauzi, sang vocalis mampu menarik perhatian penonton. Lagu Beraksi punya Kotak menjadi pembuka performa mereka. Akhirnya, lagu demi lagu mereka bawakan dengan cukup apik. Ketika ditanya, apakah kalian puas? “Kami belum puas, penampilan kami belum maksimal, kami asah terus ketrampilan bermusik kami dengan terus menjaga kekompakan,” pungkasnya yang damini oleh temen-temennya. 
Greenland, dunia tak selebar daun kelor, teruslah beraksi dan berkreasi. Maju terus pantang mundur. (rsm) Selengkapnya...

 

THE AGENT OF CHANGE Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template