Senin, 10 Agustus 2009

SOICHIRO HONDA : "Lihat Kegagalan Saya"

  Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan.
  Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah.
  Namun ia trus bermimpi dan bermimpi...

  Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya.
  Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil
  maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas,
  sehingga layak dijuluki "raja jalanan".

  Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda -
  Soichiro Honda - diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar
  insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan
  Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas,
  duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

  "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia
  saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini,
  yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo,
  Tokyo, akibat mengindap lever.

  Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang membuka
  bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang
  Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi
 cathut
  (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat
  penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

  Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri
  berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya
  ingin menyaksikan pesawat terbang.

  Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun,
  Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki.
  Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif.
  Ia sadar berasal dari
  keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga
  membuatnya rendah diri.

  Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company.
  Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti
  dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap
  oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja
  disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia
  21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu.
  Tawaran ini tidak ditampiknya.

  Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima
  reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki

  mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya
  larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif.
  Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik
  meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu
  dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras,
  dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani
  patennya yang pertama.

  Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya,
  membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang
  dipilih?
  Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh
  bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh
  Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring
  buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi
  teman-temannya terhadap kegagalan itu.
  Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

  Kuliah
  Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan
  kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya.
  Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari
  jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang
  mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke
  bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua
  tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang
  mengikuti kuliah.

  "Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan,
  melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum
  makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang gandrung balap mobil.
  Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah.
  Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

  Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota
  memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan
  pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang,
  tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal
  dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah
 datang.
  Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

  Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan
 karyawannya.
  Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh
  kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.
  Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga
  diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu,
  Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

  Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini
  kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat
  menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan
  terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda.
  Siapa sangka, "sepeda motor" - cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu
  diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan,
  sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali
  mendirikan pabrik motor.
  Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda
  berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia.

  Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri
  otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya.
  "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka
  tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan
  petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi,
  mimpikanlah mimpi baru.

  Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang
  dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun
  berasal dari keluarga miskin.

1 komentar:

 

THE AGENT OF CHANGE Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template